Kenangan Terindah

Jonggol, 2008
            Aku mempunyai dua orang teman. Mereka bernama Chacha dan Putri. Aku tak ingat bagaimana rupa mereka, kejadian-kejadiannya. Tetapi, aku masih mengingat nama-nama panggilan mereka—meskipun aku tak tahu bagaimana nama lengkap mereka. Kami selalu bermain bersama, kecuali pada saat salah seorang dari kami sakit. Dan kami saling menjenguk jika ada salah satu dari kami yang sakit. Masa kecilku bahagia, meskipun kehidupan keluargaku sederhana. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka: Chacha dan Putri. Mereka tetap mau bermain di rumah bersamaku, apapun yang terjadi.

            1 tahun berlalu. Dan aku pindah bersama Ayah, ibu, dan kakak ke Tulungagung, tempat kelahiran kakak dan ibu. Di sanalah aku tinggal untuk menemani eyang uti yang tinggal sendiri. Di sanalah aku mengenal Naura, yang kini tinggal di Bekasi, tetapi tetap pulang ke Tulungagung setiap hari raya Idul Fitri.
Saat aku kembali ke Jonggol—sekedar untuk menjenguk mbah kakung dan mbah uti, kudengar kabar bahwa Chacha telah pindah ke Jakarta, sebenarnya sudah agak lama. Kini teman-temanku entah dimana rimbanya. Aku sangat kesepian, terlebih lagi aku tak sempat mengucapkan salam terakhir untuk mereka, terutama Chacha. Sejak itu, aku tak bisa mengunjungi Jonggol lagi, karena mbah kakung dan mbah uti sudah kembali ke Lampung—terlebih lagi sejak insiden 4 rumah terbakar karena arus pendek listrik.

Chacha dan Putri.. Semakin bertambah umur kita, aku takkan melupakan kalian..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbahagialah orang yang terasing

Puisi

#BrainlyReview